sebuah mimpi tentang kamu yg begitu gigih terus aku perjuangkan..

bagaimana mungkin aku menyerah begitu saja, jika selama 4 tahun aku mengenalmu semuanya baik-baik saja..
mana mungkin aku menyerah begitu saja, jika waktu yang kita habiskan bersama tidak pernah terasa percuma.
bagaimana mungkin aku bisa menyerah sayang, jika memang hanya kamu yang ingin aku perjuangkan.
sepotong kenangan tentang kamu yang ingin aku bagi, semoga memang hati menang kali ini.

 Hujan turun sepanjang perjalananku pulang sehabis aku sempat mampir dikota mu, kota yg membuat ku merasa asing, aku memandang dari jendela yang berembun dikereta ini, dan aku sendiri masih ragu apakah seharusnya aku berada disini atau aku kembali kesana, menemukanmu. Tapi, kamu tahu sendiri kan sepenakut apa aku, berkunjung kekota mu saja membuat ku gemetaran seperti ini, padahal dirimu dulu begitu berani kerumahku, kekotaku berkeliling seorang diri.

Kamu tahu, tadi aku sempat mampir melewati depan rumahmu. Menerka jalan-jalan kecil mana yg semestinya aku lewati, berusaha memberanikan diri dengan siul-siulan orang iseng yg kutemui dijalan menuju rumahmu. Sayang, Kamu tahu kan aku tidak seberani itu.

Hah, dari kejauhan aku tahu itu rumahmu. Sebuah rumah mungil, dengan banyak tanaman didalam pot, aku tahu itu rumahmu. Kamu dulu sering kali menceritakan hobi ibumu, kamu yang gemar merawat tanaman. Hingga sering kali aku mengataimu sebagai nenek-nenek. Hah (menghela nafas) sungguh tentang mu apalagi yang tidak aku ketahui.

--

Aku menarik nafas panjang, akupun tahu sebenarnya kamu tidak mungkin berada dirumah, kamu si pekerja keras itu tidak mungkin adakan?:’) bahkan dihari minggu sekalipun. Aku mengundurkan niatku, seketika nyaliku kembali menguap. Hah, sungguh memperjuangkanmu seorang diri ternyata aku tak sanggup :’) Aku merasa tidak cukup layak bersanding denganmu. Bukan permasalahan cintaku tidak besar, cintaku memang tidak sebesar cintamu dulu, tapi cintaku terus tumbuh. Aku tidak akan kalah. Kupastikan :’) masih mau berani bertaruh?

Aku hanya masih ingin peduli, soal aku dan kamu. Soal kita. aku tidak bisa tidak peduli.

--

    Semuanya gara-gara jarak, bukan ?

Kamu yang kecapekan dan kerepotan dengan semua masalahmu dalam duniamu yang baru dan hidupmu yang berantakan mengeluh dan menyalahkan pada semuanya, termasuk aku. Kamu tidak pernah menanyakan kondisiku, perasaan ku. Segala kiraku yang terus berkecamuk, meminta kepastian yang tidak pernah kudapatkan. Mengobati, dan menyemangati hati sendiri bahwa kamu baik-baik saja disana, bahwa kamu akan selalu menjaga hati yang kutitipkan padamu dengan baik disana, ditempat baru mu yang tidak terjangkau olehku.

Aku memantapkan hatiku untuk terus percaya padamu, walau banyak kabar tidak enak berseliweran dan sampai padaku, dengan segala  untuk nada miring terus menunggumu, menunggu bahwa aka nada masa dimana kamu akan menuntaskan janjimu untuk kembali bertemu dengan ku, aku terus percaya dan terus menunggu. Menahan tangis bahwa kamu yang selalu baik pada ku akan selalu baik. Dari lubuk hati ku aku mengakui aku telah jatuh hati padamu. Hingga rasa marah, benci, terus tertahan dan terkalahkan oleh rasa rinduku. Hingga sebuah pesan singkat dari seorang wanita lain sampai padaku, aku terbakar amarah sampai aku menuntut kejelasan padamu dan kau tanggapi dingin dengan alasan yang sengaja kau buat-buat. Sesakit itu sebenarnya hatiku, dan taka da kejelasan lagi semenjak malam itu :’) kenapa mesti dihari bahagiaku, sayang? :’)

Aku seharusnya sadar, bahwa kamu memang belum sedewasa itu, tapi sayangnya aku juga tidak mau jika disuruh untuk menunggu akan sesuatu yang kejelasannya pun kamu sengaja abukan. Sekarang semua berantakan.

    --

    Kita ini bukan pasangan kelas dua yang baru kemarin mengecap cinta kan? Seharusnya bukan begini caranya. Ini bukan seperti kita.

--

Kamu sekarang, sudah tidak mau bicara padaku. Entah apa yang sudah merubahmu di kota itu hingga kamu bisa menjadi seperti itu. Aku harap, aku masih mengenalmu sebaik aku mengenal kamu yang dulu.

--

Aku disini, menumpuk segala cerita tentang kamu yang ingin kubagikan, kamu masih tidak perduli?

Aku masih bersabar dengan bendungan air mata dipelupuk yang ingin membuncah mengairi. Aku bersabar menunggu kabarmu, menunggu janjimu. Kamu selalu beralasan dengan waktumu yang begitu sibuk, sesibuk itu juga ya kamu mengacuhkanku.

Kamu tidak punya banyak waktu bahkan untukku? Akupun sama, dengan segala sisa akhir tugas akademisku, tapi aku selalu ada untuk kamu. Aku kangen bertemu dan menggelayut manja dilenganmu.. ahh sungguh mengingatnya saja, aku menjadi begitu melankolis seperti ini.

Kamu pun tahu juga, aku dimasa sulit seperti ini yg ku miliki hanya kamu, aku pikir kamu masih begitu ikhlas setia bersama ku, ternyata aku hanya sebatas besar kepala :’)

Jika kamu memang sudah tidak peduli soal, entah masih entah bukan, pacarmu, paling tidak datanglah karena kamu laki-laki.

--

Sepertinya memang sudah berakhir untuk kita. Aku sudah mencoba sebisaku, dan kamu sudah menghindar sejauhmu. Kita sudah memilih berjalan kedua arah yg berbeda. Dan aku tidak mau memaksakan apa-apa lagi. Aku tidak pernah menyangka kita bisa juga menemui sebuah akhir, saat banyak masa bisa kita lalui dengan baik. Begitu memalukan kalau ku sadari kita berakhir hanya karena orang lain, bukan karena kita yg berbeda. :’)

    Tapi yasudahlah, yang penting kamu tahu kan sekuat apa aku tetap mengusahakan akan “kita” 57 chapter bersama, dan semuanya selesai. Sia-sia :’)

Dan seingatku, kita saat itu begitu menyenangkan.

--

Saat itu, ketika kita selesai, aku masih banyak berharap akhirnya kita kembali seperti biasa, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Tapi ternyata tidak, kita memang benar-benar selesai.

Dan aku semakin yakin bahwa aku tidak boleh berharap lebih banyak saat aku dengar, kamu sudah jatuh hati lagi, dan itu bukan kepadaku.

--

Ketika aku disini masih sibuk dengan masa lalu, kamu sudah bisa menjabat masa depan. Aku disini bahkan belum tau harus mulai melupakanmu darimana. Ahh sungguh aku tertinggal (lagi) olehmu.

aku tidak menyalahkanmu, aku tau, kamu butuh seseorang yang selalu ada disana bukan? beda dengan ku, aku hanya butuh kamu.

Seandainya mengiklhaskan semudah menghela nafas. tapi bukankah itu yang diperlukan untuk memperbaiki perasaan.

--

Entah mengapa kehilanganmu tidak membuat ku menangis, untuk orang berlevel cengeng sepertiku kehilangan orang yang berarti segalanya semestinya adalah akhir. Kenapa aku tidak menangis, kenapa aku tidak meronta dan mengadu kepada Tuhan bahwa hidup tidak adil bagiku.

Mengapa aku tidak menuntutmu sebagai orang yang telah kupercaya untuk menitipkan hati, tapi kamu pergi begitu saja. Semestinya aku marah, menangis memintamu bertahan. Setidaknya aku berusaha kembali mencarimu dan meminta sebuah kepastian. Tapi mengapa aku malah kembali berjalan layaknya hidup sebelum kamu pergi. Tidak ada yang berubah, termasuk mendoakanmu selalu sehat disana disetiap sujud dan sebelum ku lelap.

Mengapa aku seakan tidak kehilanganmu orang yang telah benar-benar melangkah pergi tanpa mengajakmu. Entah sungguh ini kehilangan yang seperti apa, kamu tanpa air mata.

*mengalun lagu Desember-ERK

 

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam,

Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,

Menanti,

Seperti pelangi setia menunggu hujan reda

 

Aku selalu suka sehabis hujan dibulan desember,

Di bulan desember

 

Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka meretas luka

Sampai hujan memulihkan luka

--

Ada kamu berkemeja garis hitam-abu slim fit, pantas kamu kenakan, kamu tampak tampan hari itu. tersenyum kearahku, saat itu aku yakin aku tidak akan pernah berhenti jatuh cinta kepadamu.

Hari itu akhirnya berjalan seperti biasa untuk kita, tanpa saat itu aku sadar bahwa itu adalah hari terakhir aku melihat kamu yang sekarang kita sebut “kamu yang dulu”.

Sejak saat itu, kamu berubah, dan mungkin aku berubah. Kita berdua berubah menjadi lebih baik, meninggalkan segala kesalahan sederhana dan lupa bagaimana caranya berselisih paham.

Kamu akan semakin berubah, dan “kamu yang dulu” akan tetap menjadi bagian kita. Karena segala sesuatu dari “kamu yang dulu” adalah alasan pertama bagaimana aku bisa jatuh cinta sama kamu, untuk yang pertama kalinya.

    --

    p.s: ini sebatas elegi tak berbatas tentang kamu. Rindu meradang dan biarkan saja terus mengambang. Kemana hari ini? Pulang menujuku?

The End

0 comments about this story Feed