Memory of Your Scent

Please, help me forget him.

SONGFIC: MEMORY OF YOUR SCENT   Cast : Bae Suzy as Herself Yong Junhyung as Herself Lee Jongsuk as Herself –Suzy’s Oppa- Genre  : Sad, little bit frustrated, fantasy. Rated : T   Notes : Listen to Huh Gak song titled Memory of Your Scent during read this songfic.   Author: Baramji

“Who can comfort me when I’m this sad?” “When I close my eyes, I think of you.” “Will I be able to meet you again some day?” “Only the scent that resembles you still remains.”    

Sepasang. Mereka sepasang. Bukan perorangan. Tapi salah satu dari mereka pergi meninggalkan satu lainnya. Menyedihkan.   “Oppa! Bangun.” Suara Suzy, terdengar sangat manis bagi seorang lelaki –bernama Junhyung- yang baru saja terjaga dari tidurnya.   Setiap pagi Suzy selalu melakukan hal yang sama sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Datang ke apartemen Junhyung, menekan beberapa kode rahasia pemiliknya –meskipun kini bukan lagi rahasia bagi kekasihnya- dan membangunkan penghuni di dalamnya. Gadis manis itu tidak pernah bosan melakukannya. Suzy sangat mencintai kekasihnya. Banyak cara yang dilakukannya demi menunjukkan kecintaannya pada seorang berperilaku dingin namun berhati hangat, Junhyung. Suzy tidak pernah diam saat kekasihnya berbicara dengan wanita lain. Cemburu. Suzy cemburu dengan hal itu.   Demikian pun Junhyung. Meskipun ia bukanlah seorang yang romantis atau puitis yang akan mengucapkan hal manis setiap ia bebicara dengan kekasihnya, ia sangat yakin bahwa ia mencintai gadisnya. Dingin, tak banyak bicara, kadang cemburu bisa membuat sikapnya berubah, tapi ia sangat tampan saat sedang memeluk gadisnya.   Sulit menjelaskan bagaimana kisah mereka. Intinya, mereka saling mencintai. Meskipun berbeda cara mengekspresikannya.   “Oppa, jangan lupa pakai parfum-mu lagi, ya. Kau seperti orang asing.” Suzy selalu protes jika kekasihnya tidak memakai parfum. Tentu saja akan berbeda saat mereka berpelukan. Aroma tubuh yang berbeda. Entalah, Suzy sangat menyukai parfum yang dipakai kekasihnya. Bukan parfum limited edition, bukan parfum import dari luar negeri, bukan juga parfum mahal. Parfum itu terjual dibanyak toko-toko parfum. Banyak juga teman Suzy yang menggunakan parfum itu. Tapi Suzy selalu mengatakan kalau parfum itu berbeda kalau Junhyung yang memakainya. “Auramu cocok dengan parfum ini.” Demikian ucap Suzy tiap kali Junhyung berencana mengganti parfumnya.   Pernah Junhyung mengganti parfumnya tanpa persetujuan Suzy. Suzy marah tanpa henti. Tidak mendekati Junhyung sama sekali. Junhyung pun mengalah dan kembali memakai parfum lamanya. Mana kuat Junhyung dijauhi kekasihnya.     “Suzy-ya.. kau tidak lapar? Kau tidak makan apapun dari kemarin. Kau bisa sakit kalau terus seperti ini.” seseorang sedang berusaha membujuk. “…” Suzy tidak merespon. Ia masih tidak ingin melakukan bahkan memikirkan apapun. Gadis itu hanya ingin diam mematung saat ini. Nampak aliran air masih menetes di maniknya. Menangis. “Ayolah.. apa yang harus aku lakukan kalau kau terus begini? Sampai kapan kau mematung begini?” Pria itu masih berusaha. “Keluar.” Jawabnya datar dengan suara serak. “Baiklah kalau kau masih ingin sendiri. Tapi tolong jangan terlalu lama. Ia akan sedih kalau kau terus memikirkannya seperti ini. Oppa yakin ia lebih sedih kalau ia tau kau terus seperti ini, Suzy-ya.” Pria itu menyerah dan keluar dari kamar Suzy.   -flashback- “Apa yang bisa kami lakukan, Nona. Ia sudah tak bernyawa. Kami sudah berusaha. Maafkan kami.” Ucap seorang dokter yang hamper babak belur oleh tangan Suzy. “KAU BUKAN DOKTER!!! KAU BAHKAN TIDAK BISA MEMBANGUNKANNYA!!” Gadis itu mengamuk dan menangis sejadinya didepan pintu sebuah ruangan rumah sakit. Bagaimana ia tidak marah saat tiba-tiba seseorang menelponnya dan mengatakan Junhyung sedang kritis. Kecelakaan mobil. Dan ternyata tidak terselamatkan. -flashback end-   Sudah dua hari Suzy berdiam di kamarnya. Memegang sebotol parfum yang terus ia hirup sambil memejamkan mata -bukan tertidur- dan menangis.   “Suzy-ya, keluarlah.. Oppa membuatkan makanan kesukaanmu.” Pria ini belum menyerah membujuk adik kesayangannya untuk bergerak dari dukanya. Kali ini bahkan ia agak sedikit memaksa. Menarik Suzy dari kamarnya dan membuatnya duduk didepan meja makan.   Suzy hanya memandangi makanan di hadapannya dengan tatapan kosong. Maniknya masih basah. Sekeliling matanya membengkak. Tapi tiba tiba ia menyemprotkan parfum yang terus ia genggam ke sekelilingnya, dan mulai makan sedikit demi sedikit. Oppanya tersenyum senang melihat adiknya mau makan sekarang. Bahkan hampir menangis. Suzy makan dengan baik, tapi sesekali air menetes dari manik indahnya. Jongsuk hanya diam melihat adiknya.   Satu tahun sejak kematian Junhyung, Suzy beraktifitas seperti biasanya. Namun tidak seceria dulu, tidak seberisik dulu, dan tidak semanis dulu. Sekarang ia tak banyak bicara dan pandangan matanya akan tiba-tiba kosong saat tak ada yang dilakukannya. Seluruh benda di rumahnya diperciknya dengan parfum beraroma sama dengan kekasihnya. Ia pikir itulah satu-satunya cara untuk merasakan kehadiran Junhyung di sisinya.   Jongsuk mengerti perasaan adiknya. Ia menuruti saat adiknya meminta membelikan parfum yang bahkan tidak dipakainya. Pernah sekali Jongsuk mencoba menjauhkan parfum-parfum itu dari adiknya dengan alasan agar adiknya akan cepat melupakan kekasihnya. Tapi tidak berhasil. Suzy mengancam tidak akan pulang ke rumah kalau Oppa-nya masih melarangnya bersentuhan dengan benda itu, dan kemudian akan pergi ke toko parfum untuk membeli parfum itu. Ia akan membeli sebanyak-banyaknya dan lebih banyak menumpahkannya di rumah. Akhirnya Jongsuk mengalah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, meski kadang ia agak pusing karena terlalu banyak menghirup aroma yang muncul dari parfum kesayangan adiknya.   Suzy memercikkan parfum itu keseluruh sisi ruangan di rumahnya. Tapi ia tak merasakan kehadiran Junhyung sama sekali. Ia memercikkan lebih banyak lagi. Menumpahkannya ke lantai. Dan kemudian menangis. Ia tak bisa merasakan kehadiran itu lagi. Ia benar-benar ditinggalkan kini.   Mungkin Junhyung sudah benar-benar tidak di sisi Suzy lagi kali ini. Mungkin ia pergi agar Suzy bisa melupakannya dan berhenti berperilaku aneh seperti ini. Berat memang. Perpisahan yang tak diinginkan akan selalu sulit dilakukan.   Kali ini Suzy menumpahkan parfum itu di tempat tidurnya. Ia bahkan pernah nekad tidur sendirian di apartemen Junhyung. Membongkar seluruh isi lemari pakaian Junhyung berharap menemukan pakaian yang masih meninggalkan aroma tubuh seseorang yang dicintainya. Ia menemukannya.  Tapi tetap tidak merasakan kehadiran Junhyung seperti dulu.   Gadis ini mulai frustasi. Kemudian pergi ketempat yang pernah didatanginya dulu bersama kekasihnya. Sebuah tempat dimana hanya ada rumput hijau terhampar sejauh ia menatap. Membaringkan tubuhnya dirumput, merasakan angin berhembus menyentuh tubuhnya dan memejamkan mata.  Tiba-tiba ia merasakan kehadiran itu lagi. Segera ia bangkit dan menghamburkan pandangan kesekelilingnya.   “Oppa…” ia terbelalak dan mulai menangis. “Oppa, kau kembali?” air matanya berjatuhan. “Kenapa kau belum melupakanku?” sosok itu berbicara. Suara yang sangat dirindukan gadis itu. “Bagaimana mungkin aku melupakanmu, Oppa?” ucapnya sambil terisak. “Jangan seperti ini. Kumohon. Aku tidak akan tenang meninggalkanmu seperti ini.” Sosok itu terlihat sedih. “Kumohon kembalilah seperti dirimu yang dulu. Kita memang tidak mungkin bersama lagi, tapi percaya padaku, aku akan terus mengawasimu dari tempatku sekarang. Carilah orang lain untuk menggantikanku.” Sosok itu mulai memudar. “Oppa…” Tangisannya semakin dalam. “Banyak orang baik di sekitarmu. Tidak apa-apa bagiku kalau kau ingin memulai cinta yang baru. Maafkan aku Suzy. Aku tidak bisa berada di sisimu lagi.” Sosok itu tersenyum namun terlihat menyedihkan. Dan sosok itu pun menghilang, meninggalkan aroma parfum yang sangat familiar bagi seorang gadis. Gadis itu jatuh terduduk sesaat setelah sosok Junhyung menghilang. Pikirannya kosong. Tatapannya kosong.   “Suzy-ya!!! Apa yang kau lakukan di sini?!” akhirnya Jongsuk menemukan adiknya setelah sekian jauh mencari dan bahkan akan mengutuk dirinya sendiri jika tidak menemukan gadis tersebut. Jongsuk memeluknya erat dan membawanya masuk ke dalam mobil. Suzy masih belum berbicara apapun sampai mereka tiba di rumah.   “Oppa…” Ucapnya lirih. “Ya? Katakana saja apa yang ingin kau katakan.” Sahut Jongsuk. “Apa aku boleh melupakan Junhyung?” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Suzy. Jongsuk terdiam beberapa saat. Ia bingung harus menjawab apa. “Jawab aku, Oppa.” Suzy sedikit tidak sabar menunggu jawaban dari Oppa-nya. “Kau ingin melupakannya?” Jongsuk justru bertanya kembali. “Aku tidak ingin. Tapi Junhyung yang memintaku melakukannya.” Suzy menangis -lagi-, namun kali ini ia mencoba tersenyum. “Maksudmu?” Jongsuk bingung. Apa maksud Junhyung yang menginginkannya? “Oppa tolong bantu aku, ya. Tolong jauhkan semua benda yang mungkin akan membuatku mengingat Junhyung. Kalau tiba-tiba aku marah dan memintamu berhenti melakukannya, tolong marahi aku.” Suzy membuat permintaan kepada Oppa-nya. “…” Jongsuk tidak berbicara. Hanya menatap manik gadis dihadapannya dengan mata yang siap meluncurkan aliran air. Tapi ia membendungnya sekuat tenaga. Jongsuk memeluk adiknya. Dan bendungannya tidak dapat menahan air matanya lagi. “Kau yakin Oppa harus melakukannya? Hmm?” Tanya Jongsuk meyakinkan adiknya yang tengah terbenam dipelukannya. “Aku yakin kau akan melakukan yang terbaik untukku, Oppa.” Suzy memeluk erat Oppa-nya.   Jongsuk tersenyum namun semakin banyak air yang membasahi pipinya. Ia senang akhirnya adiknya akan kembali menjadi gadis yang ia kenal. Gadis manis satu-satunya yang tinggal bersamanya setelah kedua orangtua mereka meninggal. Jongsuk tau, sangat berat rasanya ditinggalkan oleh orang yang pernah kita sayangi. Ia juga seperti Suzy dulu saat tiba-tiba ia tidak memiliki orangtua lagi, ia bahkan masih remaja saat itu. Ia membesarkan adiknya dengan kedua tangannya. Ia ingin yang terbaik untuk adiknya. Dan sekarang Jongsuk tidak ingin melihat adiknya terpuruk lagi. Ia akan menjaga adiknya.   =End=

The End

0 comments about this story Feed