Maya dan Nyata

31 Maret 2008

Mukamu mengaca
pada kubangan tinta
namun tiada
cuma hampa
hanya kelam
tinggal diam.

Parasmu berpose
pada cermin usang
namun tiada
cuma hampa
hanya hening
derap jam tinggal puing.

Tak mengapa
ujarmu mengirit kata
cermin parasku nyanyian senja
muka diriku disepuh sinar-sinar tua
tempat dulu
maya dan nyata
memutus rasa.
Kelam di dada
sakitnya di puncak semesta.

The End

0 comments about this poem Feed