Maya dan Nyata
Mukamu mengaca
pada kubangan tinta
namun tiada
cuma hampa
hanya kelam
tinggal diam.
Parasmu berpose
pada cermin usang
namun tiada
cuma hampa
hanya hening
derap jam tinggal puing.
Tak mengapa
ujarmu mengirit kata
cermin parasku nyanyian senja
muka diriku disepuh sinar-sinar tua
tempat dulu
maya dan nyata
memutus rasa.
Kelam di dada
sakitnya di puncak semesta.
RATE THIS CHAPTER!
NO COMMENTS ABOUT THIS POEM Feed
No comments have been posted yet.




POST A COMMENT
Wanna say something? Make yourself heard!
We reserve the right to delete spam, flames, or other nasty stuff.